Sabtu, 14 April 2012

Cerpen



           Pada malam hari di sudut kota Jogja, di pinggiran kota dengan tujuan wisatawan terbanyak kedua setelah Bali itu, seorang anak duduk bersantai di dalam rumahnya yang sederhana. Ditemani kakaknya, ia bersantai di ruang tamu. Arnold nama anak tersebut. Dia berusia 14 tahun. Sebenarnya dia asli Jakarta tetapi dia sekolah di Jogja karena mengikuti kakaknya yang kuliah di Kota Gudeg tersebut. Arnold seorang remaja dan sekarang duduk di bangku SMP. Dia sedang asyik dengan handphone kesayangannya. Terkadang ia senyum-senyum sendiri saat memandangi handphone miliknya. Apalagi ketika si handphone bergetar. Tambah rianglah raut wajahnya. “Woi, Nold, ngapain senyum-senyum sendiri? Kehabisan obat loe?” Ejek kakaknya dengan gaya bahasa khas anak muda Jakarta. “Enak aja…rahasia…buat apa gue kasih tau loe.” Jawab Arnold agak ketus. “Alah, gue tau paling itu juga sms dari temen loe kan? Dasar anak labil.” Ejek kakaknya lagi. “Yeee..suka-suka gue..udahlah ga usah ngurusin gue..gue bisa urus diri gue sendiri.” Jawab Arnold. “Udah ah, gue mau tidur aja..besok gue harus dateng pagi nih..ada tugas piket.” Kata Arnold dengan wajah yang cemberut. “Serah loe aja.” Sambung kakaknya.
               Pagi harinya, Arnold bersiap untuk ke sekolah. Ia naik motor dengan buru-buru karena sebenarnya ia sudah termasuk terlambat untuk anak yang memiliki tugas piket. Ia berangkat pukul 06.30 dan karena jarak antara sekolah dan rumahnya yang cukup jauh, ia sampai ke sekolah 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
            Alhasil, ketika ia masuk kelas, teman-teman Arnold yang memiliki jadwal piket yang sama dengannya memasang wajah sinis. “Ciyee…ini dia jagoan kita.” Kata Rona, teman Arnold dengan nada menyindir. “Wuih…kurang pagi bos datengnya.” Celetuk Riska. “Iya..sekalian jam tujuh aja datengnya. Biar pas.” Kata Roy. Arnold pun hanya terdiam. Sebagai anak pindahan, ia memang sering diejek teman-temannya. Entah itu karena tingkah lakunya yang arogan, gaya bicaranya, atau pun kesombongannya, ia selalu jadi bahan ejekan. Bahkan, untuk membela dirinya saat itu pun ia tak mampu. Sungguh malang nasibnya.
            Tetapi, diantara teman-temannya tadi, ada beberapa orang yang sungguh mengerti sikap Arnold. Ia mau menerima Arnold apa adanya. Mereka adalah Tika dan Norman. Bahkan, ketika Arnold dipojokkan, mereka berdua membelanya. Sampai-sampai, mereka bertiga dijuluki “tiga serangkai”. 
            Tika adalah seorang gadis yang cantik. Kulitnya putih dan ia cukup tinggi. Sedangkan Norman adalah pria desa yang berasal dari Wonosari yang bersekolah di Jogja. Berkat kepandaiannya, ia mendapat beasiswa dari pemerintah kota.
            Mereka bertiga selalu pergi bersama-sama. Bahkan, saat bel istirahat pun mereka pergi ke kantin dengan memesan makanan dan minuman yang sama. Mereka bertiga sangat kompak sampai akhirnya……..
            Norman dan Arnold memiliki rasa lebih pada Tika. Wajar memang karena Tika memang cantik. Setiap malam Arnold dan Norman saling bertukar pesan singkat dengan Tika. Akan tetapi, baik Arnold maupun Norman belum tahu kalau mereka berdua sama-sama menyukai Tika.Setiap hari baik Norman maupun Arnold saling SMS dengan Tika. Berbulan-bulan mereka berdua melakukan pendekatan. Tapi, mereka tetap saling tidak tahu.
            Sampai akhirnya pada suatu siang yang terik, sebuah kejadian yang sebetulnya tidak disengaja, membuka semua rahasia ini. Handphone Tika tertinggal di kelas dan Arnold sebagai ketua kelas sedang mengambil buku tanda tangan kehadiran guru yang tertinggal. Ia melihat sebuah handphone tergeletak di atas meja. “Handphone siapa ya itu.” Pikir Arnold dalam hati. Ia pun mendekat ke meja kemudian mengambil handphone tersebut. Dibukanya kunci tombol handphone dan terpampanglah foto Tika di handphone tersebut bersama seorang lelaki yang tak asing bagi Arnold.
            Dialah Riko. Lelaki yang tak lain merupakan kakak kelas Arnold. Dia sekarang sudah SMA. Di bawah foto tersebut terpampang juga sebuah tulisan latin “ R Love T  ”
            Sontak, berubahlah raut wajah muka Arnold menjadi masam. Seakan dia tidak berguna untuk hidup di dunia ini lagi. Dalam kebingungan, berderinglah handphonenya. Dan ternyata, telepon dari Norman. Diangkatlah handphone tadi dan terdengarlah suara Norman “Nold, ntar sore makan yuk. Di tempat biasa bias kan?” Arnold pun menjawab “Man, kebetulan banget. Ada sesuatu yang mau aku omongin juga.”
            Sore harinya, mereka berdua pun bertemu. Betapa terkejutnya Norman melihat Arnold yang biasanya ceria kini terlihat kusut dan muram. Tanpa berpikir panjang Norman bertanya pada Arnold,”Ada apa sobat? Kok murung gitu?” “Iya nih. Ada yang mau aku omongin, Man.” Jawab Arnold.
            “Kamu tahu gak? Sebenernya aku tuh punya rasa sama Tika. Aku tuh cinta banget sama dia. Tiap hari dia SMS an sama aku. Di SMS nya itu, kadang dia pake emote-emote love gitu. Tapi, pas tadi pulang sekolah, pas aku ngambil buku tanda tangan kehadiran guru di kelas kita, aku lihat handphone Tika di meja. Iseng aja aku buka kunci tombolnya. Eh, ternyata ada foto dia sama Riko. Gila deh…stress berat aku Man!” Arnold pun menceritakan kejadian tadi siang secara runtut.
            Norman pun sontak tak kalah terkejut dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang ia sukai sama dengan yang disukai sahabatnya sendiri. Pun wanita itu sudah punya pacar. Dia pun menunduk, menghela nafas panjang, mengeluarkannya, dan mulai berbicara dengan terbata-bata kepada Arnold,”N..N..Nold, seb..seb..sebenernya aku tu..aku tu juga suka sama Tika. Dan jujur, aku kaget banget denger ceritamu tadi. Aku bingung harus bilang apa. Mung…mung..mungkin kita emang harus ikhlasin Tika. Biarkan dia bahagia dengan Riko.”
            “Iya, Man. Aku tahu kok. Karena tadi aku juga sempet buka-buka inbox nya Tika. Dan ternyata ada SMS dari kamu juga. Hahahaha ternyata dia mainin kita ya.” Arnold berkata sambil tertawa kecut. “Hehehe..aku baru sadar ternyata dunia ini udah berputar. Sekarang jamannya cewek mainin cowok, Nold.” Jawab Norman. “Iya…huh aku lega sekarang. Terus, apa langkah kita selanjutnya, Man?”
            “Ya biarkan aja Tika bahagia dengan pacarnya, Riko. Sedangkan kita, tetap bisa jadi sahabatnya kan? Setuju bro?” Tanya Norman. “Oke deh.” Jawab Arnold singkat. Akhirnya mereka berdua pun makan bersama di restoran tempat mereka janjian tadi. Sampai keesokan harinya, mereka bertiga bertemu dan tetap menjadi “tiga serangkai”. Arnold dan Norman sepakat untuk menyembunyikan hal ini pada Tika dan mereka bertiga tetap menjadi sahabat akur sampai akhir lulus SMP Arnold kembali ke kampung halamannya, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar