Nah, kali ini aku pengen sedikit sharing tentang masa kecilku :D masa kecil yang penuh kenangan. Sama seperti kebanyakan orang, yang paling berkesan waktu kita kanak-kanak tentu saat pertama kali masuk sekolah. Dan sama juga seperti kebanyakan orang, perasaanku waktu pertama kali masuk sekolah ya tentu saja berdebar-debar alias deg-degan. Pertama kali masuk Play Group kala itu, perasaanku campur aduk. Aku merasa takut karena harus bertemu dengan banyak orang "asing" yang sebaya denganku dan tentu saja belum kukenal. Pokoknya waktu itu tu pengen deket-deket orang tua terus. Ga pengen jauh-jauh dari papa dan mama yang mengantarku. Tapi akhirnya semua berjalan baik-baik saja dan aku mengenal banyak teman yang mengasyikan.
@ruddyop
Sabtu, 21 April 2012
Masa Kanak-Kanak
Masa kanak-kanak adalah masa paling bahagia. Waktu itu kita gak punya beban apa-apa. Yang ada cuma bermain, dan tentunya sedikit belajar. Belajarnya pun lebih kepada mencontoh tindakan orang lain. Wah pokoknya asyik deh jadi anak kecil tu.
Sabtu, 14 April 2012
Kelasku di SMA
Perkenalkan, nama kelasku adalah Mazda 69. Mazda itu singkatan dari Massa Sepuluh Dua. Nama itu dibuat oleh Ardin. Keren ya namanya kayak merk mobil. Mazda ini adalah kelas sekaligus keluarga baruku setelah aku lulus SMP. Di dalamnya terdapat berbagai macam karakter dan sifat yang berbeda-beda lho. Ada yang kocak, lucu, pendiem, pemarah, cerewet, ya pokoknya macem-macem deh. Kami selalu berusaha membuat perbedaan itu sebagai hal yang indah. Kami berusaha tetap bersatu. Ya walaupun kadang emang ada perbedaan pendapat, terutama antara yang laki-laki sama yang perempuan. Tapi emosi itu cuma sesaat kok. Ntar kalo udah agak lama juga baikan. Pernah nih ada forum kelas terus ya sampe adu mulut gitu. Ya tapi Mazda tetap bersatu kok sampe sekarang. Nah, kelas 11 nanti bakalan kembali diacak. Agak gak rela sebenernya pisah sama temen-temen Mazda. Ya tapi mau gimana lagi. Selamat ketemu di kelas 12 kawan. Salam Mazda :D
Cerpen
Pada
malam hari di sudut kota Jogja, di pinggiran kota dengan tujuan wisatawan
terbanyak kedua setelah Bali itu, seorang anak duduk bersantai di dalam
rumahnya yang sederhana. Ditemani kakaknya, ia bersantai di ruang tamu. Arnold
nama anak tersebut. Dia berusia 14 tahun. Sebenarnya dia asli Jakarta tetapi
dia sekolah di Jogja karena mengikuti kakaknya yang kuliah di Kota Gudeg
tersebut. Arnold seorang remaja dan sekarang duduk di bangku SMP. Dia sedang
asyik dengan handphone kesayangannya. Terkadang ia senyum-senyum sendiri saat
memandangi handphone miliknya. Apalagi ketika si handphone bergetar. Tambah
rianglah raut wajahnya. “Woi, Nold, ngapain senyum-senyum sendiri? Kehabisan
obat loe?” Ejek kakaknya dengan gaya bahasa khas anak muda Jakarta. “Enak
aja…rahasia…buat apa gue kasih tau loe.” Jawab Arnold agak ketus. “Alah, gue
tau paling itu juga sms dari temen loe kan? Dasar anak labil.” Ejek kakaknya
lagi. “Yeee..suka-suka gue..udahlah ga usah ngurusin gue..gue bisa urus diri
gue sendiri.” Jawab Arnold. “Udah ah, gue mau tidur aja..besok gue harus dateng
pagi nih..ada tugas piket.” Kata Arnold dengan wajah yang cemberut. “Serah loe
aja.” Sambung kakaknya.
Pagi harinya, Arnold bersiap untuk
ke sekolah. Ia naik motor dengan buru-buru karena sebenarnya ia sudah termasuk
terlambat untuk anak yang memiliki tugas piket. Ia berangkat pukul 06.30 dan
karena jarak antara sekolah dan rumahnya yang cukup jauh, ia sampai ke sekolah
15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Alhasil, ketika ia masuk kelas, teman-teman
Arnold yang memiliki jadwal piket yang sama dengannya memasang wajah sinis.
“Ciyee…ini dia jagoan kita.” Kata Rona, teman Arnold dengan nada menyindir.
“Wuih…kurang pagi bos datengnya.” Celetuk Riska. “Iya..sekalian jam tujuh aja
datengnya. Biar pas.” Kata Roy. Arnold pun hanya terdiam. Sebagai anak
pindahan, ia memang sering diejek teman-temannya. Entah itu karena tingkah
lakunya yang arogan, gaya bicaranya, atau pun kesombongannya, ia selalu jadi
bahan ejekan. Bahkan, untuk membela dirinya saat itu pun ia tak mampu. Sungguh
malang nasibnya.
Tetapi, diantara teman-temannya
tadi, ada beberapa orang yang sungguh mengerti sikap Arnold. Ia mau menerima
Arnold apa adanya. Mereka adalah Tika dan Norman. Bahkan, ketika Arnold
dipojokkan, mereka berdua membelanya. Sampai-sampai, mereka bertiga dijuluki
“tiga serangkai”.
Tika adalah seorang gadis yang
cantik. Kulitnya putih dan ia cukup tinggi. Sedangkan Norman adalah pria desa
yang berasal dari Wonosari yang bersekolah di Jogja. Berkat kepandaiannya, ia
mendapat beasiswa dari pemerintah kota.
Mereka bertiga selalu pergi
bersama-sama. Bahkan, saat bel istirahat pun mereka pergi ke kantin dengan
memesan makanan dan minuman yang sama. Mereka bertiga sangat kompak sampai akhirnya……..
Norman dan Arnold memiliki rasa
lebih pada Tika. Wajar memang karena Tika memang cantik. Setiap malam Arnold
dan Norman saling bertukar pesan singkat dengan Tika. Akan tetapi, baik Arnold
maupun Norman belum tahu kalau mereka berdua sama-sama menyukai Tika.Setiap
hari baik Norman maupun Arnold saling SMS dengan Tika. Berbulan-bulan mereka
berdua melakukan pendekatan. Tapi, mereka tetap saling tidak tahu.
Sampai akhirnya pada suatu siang
yang terik, sebuah kejadian yang sebetulnya tidak disengaja, membuka semua
rahasia ini. Handphone
Tika tertinggal di kelas dan Arnold sebagai ketua kelas sedang mengambil buku
tanda tangan kehadiran guru yang tertinggal. Ia melihat sebuah handphone
tergeletak di atas meja. “Handphone siapa ya itu.” Pikir Arnold dalam hati. Ia
pun mendekat ke meja kemudian mengambil handphone tersebut. Dibukanya kunci
tombol handphone dan terpampanglah foto Tika di handphone tersebut bersama
seorang lelaki yang tak asing bagi Arnold.
Dialah Riko. Lelaki yang tak lain merupakan
kakak kelas Arnold. Dia sekarang sudah SMA. Di bawah foto tersebut terpampang
juga sebuah tulisan latin “ R Love T ”
Sontak, berubahlah raut wajah muka
Arnold menjadi masam. Seakan dia tidak berguna untuk hidup di dunia ini lagi.
Dalam kebingungan, berderinglah handphonenya. Dan ternyata, telepon dari
Norman. Diangkatlah handphone tadi dan terdengarlah suara Norman “Nold, ntar
sore makan yuk. Di tempat biasa bias kan?” Arnold pun menjawab “Man, kebetulan
banget. Ada sesuatu yang mau aku omongin juga.”
Sore harinya, mereka berdua pun
bertemu. Betapa terkejutnya Norman melihat Arnold yang biasanya ceria kini
terlihat kusut dan muram. Tanpa berpikir panjang Norman bertanya pada
Arnold,”Ada apa sobat? Kok murung gitu?” “Iya nih. Ada yang mau aku omongin,
Man.” Jawab Arnold.
“Kamu tahu gak? Sebenernya aku tuh
punya rasa sama Tika. Aku tuh cinta banget sama dia. Tiap hari dia SMS an sama
aku. Di SMS nya itu, kadang dia pake emote-emote love gitu. Tapi, pas tadi
pulang sekolah, pas aku ngambil buku tanda tangan kehadiran guru di kelas kita,
aku lihat handphone Tika di meja. Iseng aja aku buka kunci tombolnya. Eh,
ternyata ada foto dia sama Riko. Gila deh…stress berat aku Man!” Arnold pun
menceritakan kejadian tadi siang secara runtut.
Norman pun sontak tak kalah terkejut
dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Bagaimana mungkin seorang
wanita yang ia sukai sama dengan yang disukai sahabatnya sendiri. Pun wanita
itu sudah punya pacar. Dia pun menunduk, menghela nafas panjang,
mengeluarkannya, dan mulai berbicara dengan terbata-bata kepada Arnold,”N..N..Nold,
seb..seb..sebenernya aku tu..aku tu juga suka sama Tika. Dan jujur, aku kaget
banget denger ceritamu tadi. Aku bingung harus bilang apa. Mung…mung..mungkin
kita emang harus ikhlasin Tika. Biarkan dia bahagia dengan Riko.”
“Iya, Man. Aku tahu kok. Karena tadi
aku juga sempet buka-buka inbox nya Tika. Dan ternyata ada SMS dari kamu juga.
Hahahaha ternyata dia mainin kita ya.” Arnold berkata sambil tertawa kecut.
“Hehehe..aku baru sadar ternyata dunia ini udah berputar. Sekarang jamannya
cewek mainin cowok, Nold.” Jawab Norman. “Iya…huh aku lega sekarang. Terus, apa
langkah kita selanjutnya, Man?”
“Ya biarkan aja Tika bahagia dengan
pacarnya, Riko. Sedangkan kita, tetap bisa jadi sahabatnya kan? Setuju bro?”
Tanya Norman. “Oke deh.” Jawab Arnold singkat. Akhirnya mereka berdua pun makan
bersama di restoran tempat mereka janjian tadi. Sampai keesokan harinya, mereka
bertiga bertemu dan tetap menjadi “tiga serangkai”. Arnold dan Norman sepakat
untuk menyembunyikan hal ini pada Tika dan mereka bertiga tetap menjadi sahabat
akur sampai akhir lulus SMP Arnold kembali ke kampung halamannya, Jakarta.
Selasa, 10 April 2012
Isi Hatiku
Hatiku sekarang tak lagi kosong
Sebab ada dirimu disampingku
Hatiku sekarang tak lagi hampa
Sebab kasihmu menemaniku
Hatiku sekarang tak seperti dulu
Karena hadirmu menyejukkanku
Kini rasaku sempurna
Karena dirimu satu-satunya
Jika bisa kutulis sebuah kata tentang dirimu
Kan kutulis dengan rasa terindah
Sebuah kata, sebuah rasa
Aku cinta padamu wahai kekasihku
Kini bersamamu
Esok disampingmu
Selamanya dihatimu
Sebuah puisi sederhana kutuliskan
Untuk menggambarkan isi hatiku
Menggenggam Dunia
Yak, judulnya seperti tagline blogku, menggenggam dunia. Mungkin penafsirannya banyak ya. Menggenggam dunia kalo di zaman dulu tu bisa diartikan sebagai yang memegang kekuasaan untuk menguasai dunia. Banyak orang mendambakan menjadi penguasa tunggal di dunia gak peduli gimana caranya. Perang, balas dendam, atau saling membunuh tu sudah biasa demi satu tujuan: dunia ada digenggaman tangan.
Nah kalo dulu menggenggam dunia tu diartikan sebagai menggenggam kekuasaan, maka gimana ya arti menggenggam dunia di zaman sekarang? Menurutku menggenggam dunia di zaman sekarang tu ya cara kita mencapai cita-cita kita. Ini menurutku lho :D
Nah, masalahnya, gimana cara "menggenggam dunia" di masa sekarang? Jawabannya ya bermacam-macam. Tergantung diri kita masing-masing. Mungkin jawaban yang paling favorit dan paling logis ya dengan belajar dan sekolah setinggi-tingginya. Tapi benarkah cuma kayak gitu doang? Kalo aku berpendapat, enggak! Wkwkwk mungkin emang dasarnya aku sedikit naif akhir-akhir ini gara-gara nilai mid semesterku gak terlalu memuaskan wkwk curcol bos. "Menggenggam dunia" di masa sekarang ini gak cukup cuma dengan belajar atau mendapat nilai bagus doang wkwk ini menurutku lho :D. Yang paling penting adalah justru bagaimana kita bisa pintar-pintar menempatkan diri di tengah masyarakat. Waiki...pokoke ki kudu pinter-pinter bersosialisasi wkwk ini masih menurutku :D . Karena faktanya, pendidikan akademis tu harus seimbang dengan pendidikan non akademis. Lha sekarang bayangin deh seorang dokter yang cuma tau teori tapi gak bisa praktik. Nah lho...
Jadi kalo mau "menggenggam dunia" gak cukup dengan belajar doang. Harus seimbang bos. Nek ibarat makanan tu harus 4 sehat 5 sempurna. Coba kalo setiap hari kita makan daging terus. Lak yo gak sehat to? harus diimbangi dengan sayur dan buah-buahan :D wkwkwk mahngopo.
"Menggenggam dunia" juga bisa dilakukan dengan kerja keras. Wah jawabannya pasaran ya :p Ya emang caranya gini mau gimana lagi. Kita gak akan bisa "menggenggam dunia" kita kalo kita gak bekerja keras. Ya bentuknya bisa apa aja sih. Gak cuma belajar doang. Pokoknya setiap pekerjaan yang kita lakukan harus terselesaikan dengan maksimal dan harus ikhlas juga melakukannya :D
Nah tulisan pertamaku kuakhiri sampai disini ya wkwk semoga bermanfaat kawan.....
Nah kalo dulu menggenggam dunia tu diartikan sebagai menggenggam kekuasaan, maka gimana ya arti menggenggam dunia di zaman sekarang? Menurutku menggenggam dunia di zaman sekarang tu ya cara kita mencapai cita-cita kita. Ini menurutku lho :D
Nah, masalahnya, gimana cara "menggenggam dunia" di masa sekarang? Jawabannya ya bermacam-macam. Tergantung diri kita masing-masing. Mungkin jawaban yang paling favorit dan paling logis ya dengan belajar dan sekolah setinggi-tingginya. Tapi benarkah cuma kayak gitu doang? Kalo aku berpendapat, enggak! Wkwkwk mungkin emang dasarnya aku sedikit naif akhir-akhir ini gara-gara nilai mid semesterku gak terlalu memuaskan wkwk curcol bos. "Menggenggam dunia" di masa sekarang ini gak cukup cuma dengan belajar atau mendapat nilai bagus doang wkwk ini menurutku lho :D. Yang paling penting adalah justru bagaimana kita bisa pintar-pintar menempatkan diri di tengah masyarakat. Waiki...pokoke ki kudu pinter-pinter bersosialisasi wkwk ini masih menurutku :D . Karena faktanya, pendidikan akademis tu harus seimbang dengan pendidikan non akademis. Lha sekarang bayangin deh seorang dokter yang cuma tau teori tapi gak bisa praktik. Nah lho...
Jadi kalo mau "menggenggam dunia" gak cukup dengan belajar doang. Harus seimbang bos. Nek ibarat makanan tu harus 4 sehat 5 sempurna. Coba kalo setiap hari kita makan daging terus. Lak yo gak sehat to? harus diimbangi dengan sayur dan buah-buahan :D wkwkwk mahngopo.
"Menggenggam dunia" juga bisa dilakukan dengan kerja keras. Wah jawabannya pasaran ya :p Ya emang caranya gini mau gimana lagi. Kita gak akan bisa "menggenggam dunia" kita kalo kita gak bekerja keras. Ya bentuknya bisa apa aja sih. Gak cuma belajar doang. Pokoknya setiap pekerjaan yang kita lakukan harus terselesaikan dengan maksimal dan harus ikhlas juga melakukannya :D
Nah tulisan pertamaku kuakhiri sampai disini ya wkwk semoga bermanfaat kawan.....
Nyoba-Nyoba Nulis
Eaaaa...blog baru nih kawan, mungkin situ tanya kenapa kok baru buat blog sekarang ya? Wakakaka ya soalnya lagi pengen aja. Pengen nyoba-nyoba nulis, daripada gak ada kerjaan. Yah sekedar mengisi waktu luang aja. Semoga suka deh.
Langganan:
Postingan (Atom)